Samstag, Juni 17, 2006

 

Selamat Ulang Tahun!

Untuk Kampung Gajah tercinta, selamat ulang tahun yang kedua ya! Dan keputusan untuk memindahkan perayaan jadi tanggal 14 Juni memang sangat tepat.

Yang lahir tanggal 14 Juni itu memang keren-keren... *siyul-siyul*

Freitag, März 24, 2006

 
Ranu Kumbolo dan Impian Yang Pupus

Kali ini, tidak ada hubungan langsung dengan kopdar maupun Kampung Gajah, tapi...aku ingin menulis kisah ini, sekalian juga mengabulkan request-nya Dudi.

Malam sebelum kami berangkat ke Ranu Pane, kami nyaris tidak bisa tidur, padahal badan sudah sangat lelah. Aku lumayan merasa takut (akan harimau kumbang, ular, dan teman-temannya) sementara Micha merasa excited. Tapi toh lewat tengah malam kami terlelap juga dan bangun jam 5 untuk mandi dan sarapan.

Rencana ingin menghilang dari peradaban selama 4-5 hari, gagal. Harusnya sih nggak gagal, mengingat aku udah bilang kalau aku bersedia kok untuk meneruskan perjalanan...tapi Micha punya pendapat lain, dan memutuskan bahwa untuk mencapai Ranu Kumbolo sudah cukup bagi kami berdua. Kepada orang-orang, Micha mengaku bahwa beban yang ia bawa terlalu berat dan kondisi tidak memungkinkan: musim hujan menyebabkan banyak tanah yang longsor, pohon yang tumbang (saya benci pohon tumbang, yang membuat kami harus merangkak di bawahnya!), dan juga semak-semak belukar yang lebat dan menutupi jalan setapak.
Tapi saya tahu ada satu alasan lain yang tidak ia katakan kepada orang-orang: aku.

Saat kami tiba di Ranu Kumbolo (alhamdulillah...kami mencapainya dalam waktu 7 jam, saat orang-orang biasanya hanya membutuhkan waktu 4 jam saja... Bangga, ceritanya),

dan Micha sedang mencari tempat yang paling baik untuk mendirikan kemah, sementara aku dengan bahagianya melempar ranselku (yang mungil, kalau dibanding ransel Micha) ke tanah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Micha segera berlari ke tempat aku berdiri sambil panik, dan ia mendirikan tenda. Bukan pekerjaan yang mudah karena tenda itu baru dan kami sama sekali belum pernah mencobanya.

Begitu tenda terpasang (meski belum sepenuhnya), Micha segera memintaku untuk masuk ke dalam dan membuka semua bajuku (tidak ada krimsup!) dan menggantinya dengan baju hangat dan kering. Aku masih sempat-sempatnya protes, "Tendanya kecil banget, Sayang!", saat kemudian dia masuk ke dalam tenda dalam keadaan basah kuyup. (Kalau sekarang aku mengingatnya, aku jadi sedih...kok bukannya aku nyodorin baju kering atau handuk, malah ngomel..., padahal aku udah kering dan hangat sementara dia masih basah kuyup dan kedinginan...)



Untungnya, hujan itu hanya sebentar sehingga kami bisa masak air untuk menikmati Mie Gelas (bukannya ngiklan) dan cereal sebelum tidur. Jam 16:00 kami sudah menggelar sleeping bag kami dan tidur. Kelelahan kami benar-benar membuat kami tidur pulas, namun sekitar pukul 19:00 saya sudah terbangun. Begitu banyak suara yang membuatku ketakutan, dan juga aku memang tidak terbiasa untuk tidur di luar jam tidurku. Gelap, dan suara-suara asing membuatku semakin takut dan...membangunkan Micha yang dalam keadaan ngantuk menjawab, "Sayang, ini kan masih gelap. Tidur lagi gih!"

Jelas saja aku nggak nurut. Aku bangunin dia lagi (kali ini dia bersedia untuk membuka matanya) dan nanya, "Itu suara apa?"
"Jangkrik."
"Kalau itu?"
"Burung."
"Memangnya burung masih bangun jam segini?"
"Ada yang beraktivitas di malam hari."
"Terus, itu suara apa?"
"Ikan."
"Sejak kapan ikan bersuara?"
"Suara air saat ikan melompat."
"Ngapain lompat dari air?"
"Mungkin ada serangga dan dia mau makan serangga itu."
"Yakin bukan harimau kumbang?"
"Yakin."
"Bukan ular?"
"Nggak ada ular."
"Dari mana bisa yakin kalau itu bukan harimau kumbang?"
"Karena harimau kumbang itu pemalu. Dia nggak suka dekat-dekat manusia, kecuali kita bawa daging mentah."
"Kalau hantu gimana?"
"???"
"..."
"Nggak ada hantu, Cintaku. Jangan takut."
"Tapi aku takut."
"Pakai sweater-mu. Kita jalan-jalan dan bikin api unggun."

Meskipun aku pakai T-shirt, dua baju hangat dan sweater, lalu aku pakai kaos kaki wol yang dibuat khusus oleh mamanya Micha, serta didobel lagi dengan kaos kaki wol lainnya, pakai kupluk dan sarung tangan wol, rasanya masih dingin... Brrr...
Aku juga tahu bahwa Micha juga kedinginan, mengingat dia hanya pakai T-shirt dan sweater plus kaos kaki biasa, dari tangannya. Iya dong, gandengan tangan biar hangat dan...biar aku nggak diculik setan. -__-

Kami berkeliling sebentar untuk membuktikan bahwa memang hanya ada kami di Ranu Kumbolo, selain serangga, ikan, dan semacamnya. Dan yang paling penting, nggak ada harimau kumbang, ular, maupun hantu. Setelah itu, baru deh Micha mencari ranting-ranting untuk api unggun. Aku yang bertugas memegang dan membawa ranting-ranting itu, dengan kedua tanganku. Micha juga membawanya meskipun dengan satu tangan (karena yang satu lagi dan kakinya bertugas mencari dan mengambil ranting lainnya). Lama kelamaan berjalan beriringan itu nggak efektif. Akhirnya diputuskan bahwa Micha mencari ranting, aku yang bertugas membawanya ke depan tenda dan kembali lagi ke Micha untuk mengambil ranting yang sudah ia kumpulkan. Tapi beneran..., biarpun aku nggak membantah, tapi aku takuuuut banget.

Ternyata...bikin api unggun itu sulit banget! Udah disiram bensin, pakai koran, siram bensin lagi, tetep aja gagal. Nyala sih, tapi sebentar banget, trus tinggal bara api. Micha udah niup-niup terus juga tetap bara api. Kata Micha, kayunya terlalu basah karena hujan dan yang paling utama adalah kadar oksigen yang kurang. Ya akhirnya sih kami duduk saja di atas koran yang dihamparkan di atas rumput, memandangi langit yang dihiasi sedikit bintang. Enak rasanya, pas menyandarkan kepala di bahu dia. Sayangnya, kehangatan dirangkul itu nggak cukup, karena suhu semakin dingin saja membuat kami sepakat untuk masuk ke dalam tenda dan tidur lagi.

Tapi ternyata itu tidak berhasil, aku masuk angin dan nyaris muntah. Baru kali itu Micha jadi gusar. Akhirnya kami keluar lagi, sampai aku merasa baikan. Micha terus nemenin, walaupun aku tahu dia kedinginan...
Entah kenapa, aku melupakan minyak kayu putih yang sengaja aku bawa untuk meringankan gatal-gatal kalau Micha sampai digigit nyamuk. :-(

Setelah aku baikan, kami pun kembali ke dalam tenda, dan Micha menyatukan sleeping bag kami, supaya lebih hangat, katanya. Dan kali ini...kami berhasil tidur hingga hari berganti.

Siapa yang sangka dengan matahari yang begitu tinggi dan suhu yang juga tinggi, ternyata baru pukul 5 pagi? Karena masih pagi, kami pun bermalas-malasan dulu di dalam tenda.
"Aku sudah segar lagi. Aku mau kok, kalau kita terus," kataku.
"Benar?"
"Iya. Biarpun capek banget, tapi semua ini berharga."
"Memang, tapi bukan ide yang baik kalau kita teruskan."
"Kenapa?"
"Kita berdua nggak dalam kondisi prima, dan seperti orang-orang bilang, cuaca dan musim nggak mendukung."
"Yakin?"
"Ya. Oke, sekarang aku nyalain api, kamu tolong siapkan makanan ya. Dan juga teh."

Selepas sarapan, aku pun beres-beres sleeping bag, sambil bermalas-malasan, sementara Micha di luar. Penasaran dengan apa yang dilakukan Micha di luar, aku melongok ke luar. Dan ternyata Beruangku itu lagi jemur baju kami yang basah karena hujan! Aduh! Langsung deh aku balik beres-beres, kali ini tanpa malas-malasan, hehehe. Teriknya matahari membuat semua pakaian basah itu kering dalam tempo setengah jam, dan dalam tempo itu juga kulit Micha lagi-lagi terbakar...lupa bawa sunblock sih.

Selesai beres-beres dan siap berangkat, ada tiga orang pendaki juga yang berpapasan, mereka turun dan memberi salam kepada kami. Kami benar-benar kagum sama mereka. Bayangkan saja, mereka bawa gembolan segede itu dengan santai dan pakai sandal jepit pula! Tapi ya karena bertemu mereka juga, kami jadi tidak segera berangkat. Males ah, kalau beramai-ramai...nanti kan kelihatan kalau aku jalannya pelan, padahal udah pakai tas ransel yang pakai teknologi apa gitu (yang kata Micha, membantu kita merasa nyaman dan nggak merasa terlalu kepanasan di punggung) dan juga sepatu khusus (lagi-lagi ini pilihan Micha), hihihi.

Oh ya, kalau malam sebelumnya kami gagal punya api unggun, pagi itu ceritanya lain lagi lho. Micha berhasil bikin api unggun. Sayang, nggak ada fotonya, cuma ada movie. :-p

Hari baru memberikan semangat baru, apalagi matahari tampak begitu bersahabat, dan ditambah juga dengan semangat dari Micha, "Perjalanan pulang lebih cepat dan mudah kok daripada perginya."

Tapi ternyata...itu salah!

Ya nggak sepenuhnya salah sih, tapi jalanan menurun itu ternyata menyiksa. Dan pohon-pohon tumbang itu pun masih tetap di sana. Lebih parah lagi, karena hujan deras di hari sebelumnya, kami terpaksa mengambil jalur memutar di sebuah titik karena tanah yang sehari sebelumnya kami lewati, sudah terlalu lembek dan bisa longsor jika kami lewati.

Jalan setapak yang menurun pun membuatku hampir menangis. Jempol kakiku sakit sekali! Ingin deh rasanya ganti dengan sepatu sneaker saja. Dan keseimbanganku yang tidak baik, membuatku beberapa kali terpeleset, untungnya bukan terpeleset ke jurang, hehehe.
Yang pasti, ada suatu saat di mana Micha melemparkan sebuah pertanyaan, "Sayang, kamu masih kuat? Kalau nggak, saya dukung kamu."
"Lho? Terus ranselmu gimana?"
"Dipasang di depan. Mau ya?"
"..."
"Kuat, kok."
"Aku masih kuat kok. Makasih ya..."

Dan entah bagaimana, (untuk sesaat) semangatku kembali menyala, aku tidak lagi banyak berhenti. Mungkin karena aku tersentuh sama perhatian dan pengorbanan Micha. Mungkin saat itu, aku tidak melulu melihat bebanku, melainkan juga beban Micha. Aku hanya menanggung ransel berkapasitas 15 liter, dengan botol Aqua yang sudah kosong, sementara Micha masih membawa ransel 25 liternya dan botol-botol Aqua, makanan, serta sampah-sampah kami. Ditambah lagi, ia masih membawa sebuah beban lain, janji kepada Mama-ku bahwa ia akan menjagaku. Ya, ya, ya...orangtuaku memang terlalu memanjakanku. :-p

Akhirnya, tak lama setelah aku teriak (semangat yang waktu itu ada telah hilang), "Sayang, pokoknya begitu kita sampai kota, aku pengen steak, es krim, sosis, dan kentang goreng!" kami melihat sebuah pemandangan yang begitu melegakan hati. Hamparan ladang.
Akhirnya! Akhirnya! Kami kembali ke peradaban.

Lebih mengherankannya lagi, ternyata begitu kami tiba, tiga orang pendaki yang lebih dulu berangkat itu pun baru tiba. Eh, ternyata kami cepat juga ya? Lima jam lho! Hihihi, kelamaan ya? Yah, namanya juga bawa seorang putri manja. Mau apa lagi? ;-)

Karena kami tiba sudah lewat pukul 13:00, otomatis kami tidak bisa numpang truk untuk kembali ke Tumpang. Pilihan yang tersisa adalah menelepon dan menyewa jip atau naik ojeg. Ojeg murah sih, Rp 70.000,00 juga sudah mau. Tapi Micha bilang, itu bukan ide yang bagus mengingat medan yang buruk serta bawaan kami yang berat dan kondisi kami yang sangat lelah. Untunglah, seorang ibu penjaga warung (satu-satunya warung di sana!) mengenal seorang pemilik truk. Singkatnya, akhirnya kami menyewa truk itu, dengan harga Rp 300.000,00. Micha yang baik hati, menawarkan tiga orang pendaki itu untuk ikut dan menyumbang. Namun ternyata mereka bokek, dan hanya mau membayar Rp 80.000,00. Tidak mau ambil pusing, Micha setuju saja, dan menanggung sisanya.

Sebagai pembayar paling mahal, kami berdua berhak duduk di depan, sementara ketiga orang itu duduk di belakang bersama tas ransel kami. Awal dari sebuah bencana.



Ketidakcurigaan kami membuat Micha harus kehilangan kameranya. Ketidakpercayaanku bahwa sesama pendaki dapat saja mencuri, membuat kami akhirnya tidak menggeledah mereka. Micha shock, aku marah pada diriku sendiri yang tolol...yang percaya saja sama orang.
Micha hanya bilang kepada mereka, bukan kamera yang paling penting, tapi gambar di dalamnya. Ya, terpaksa gambar perjuanganku mendaki gunung, hilang di tangan orang(-orang) tidak bertanggungjawab itu. :-(

Despite of the tragedy, pengalaman (mencoba) mendaki Gunung Semeru adalah sebuah pengalaman yang berharga, yang mendalam. Dan kalau ada kesempatan, aku nggak akan nolak kalau diajak Micha untuk naik lagi.

Sempat terbersit pertanyaan apa iya, Micha mau ngajak aku lagi. Tapi ternyata ya. Dia tetap mengajakku. Bukan di Semeru, tapinya. Tapi di Alps... ;-)
Sleeping bag khusus sudah menantiku. Tinggal cocokkan hari libur kami (ya, ya...dalam kontrak kerjaku, biarpun aku anak baru, jatah liburnya sama kok, hihihi) dengan undangan-undangan menginap yang kami dapatkan dari orangtua dan saudara-saudara Micha, lalu dengan festival-festival, lalu...Alps! :-D

Anyway...untuk siapapun yang tidak mudah berprasangka buruk kepada orang lain, ingatlah wejangan dari Mama-nya Micha ini, "Chances make thieves."

Montag, März 13, 2006

 
Untung Ada Dudi...!

Dari Blora, kami segera menuju Cepu untuk menemui keluarga teman Mama-ku. Bukan hal yang menyenangkan, sebenarnya, tapi ya itu permintaan Mama. Rencana melewatkan malam di Surabaya pun batal karena Micha terlalu capek menyetir, dan saat kami tiba di Bojonegoro pun malam telah turun. Kami pun memutuskan untuk menginap di kota kecil itu.


Keesokan paginya, barulah kami melanjutkan perjalanan. Harapanku untuk singgah di Surabaya pupus karena ditolak mentah-mentah oleh Micha. Gara-gara alasan "Surabaya is too crowded and too hot. There's nothing to see there", aku jadi di-banned nih sama Benceh. Nggak bisa ketemu sama Donceh yang ngakunya cakep itu juga. *sigh*

Sebelum tiba di Malang, aku pun nanya nomor telepon Vnuz ke Bunda. Satu hal yang (waktu itu) aku nggak tahu adalah bahwa Vnuz ini adalah manusia malam. Alhasil sms-ku dicuekkin, dan saat aku meneleponnya...aku pun membangunkannya. Oopsie, sorry-dorry, Nuz! Hehehe...
Tapi dari Vnuz, aku jadi tahu nomor anak gajah lainnya, Dudi.

Begitu tiba di Malang, aku pun mengontak seorang temanku, Tya, member Harry Potter Indonesia. Dari beberapa waktu sebelumnya pun, kami udah ingin ketemuan. Tapi ya ternyata belum berjodoh, hehehe. Lain kali ya, Tya! ;-)

Karena nggak menemui siapa pun sore itu (ya, sampainya sore) kami pun memutuskan untuk jalan-jalan menikmati kota Malang. Dari hotel tempat kami menginap, kami berjalan kaki ke Alun-Alun, di bawah rintik hujan. Ah, Malang memang kota romantis! Tapi Malang memang menyimpan banyak memori juga untukku, juga untuk Papa yang sengaja menelepon (ekstra) untuk mengingatkanku untuk makan malam di restoran kesukaan kami dulu, Dragon Phoenix. Dari Alun-Alun, restoran itu tidaklah jauh.

Sayangnya, ternyata tempat kenangan itu sudah tutup. Aku sempat kecewa juga, karena aku ingin berbagi kenangan itu bersama Micha..., tapi ya mau apa lagi? Sisi baiknya, kami jadi makan Bakso Malang. Micha suka lho! Dia terheran-heran sama makanan itu, hihihi. Tapi ya itu, perutnya masih meronta kelaparan sehingga kami mampir di McD untuk beli camilan kesukaan dia: McFlurry dengan M&M (males nulis yang bener), dan kemudian mampir juga ke toko kue Oen.

Toko ini benar-benar mengingatkanku ke Sumber Hidangan di kota kelahiranku, Bandung. Suasananya mirip banget, begitupun kue-kuenya. Sayang, kami tidak mencoba es krimnya, yang katanya sih merupakan andalan toko tersebut. Di toko ini juga akhirnya aku dan Dudi berbincang-bincang lewat telepon.

Satu hal yang pasti, aku nggak tahu deh gimana nasibku kalau nggak ada Dudi. Pas ia tahu kami berencana untuk ke Gunung Arjuna, ia mempertanyakan hal itu, "Kenapa nggak Semeru?"
Dari pembicaraan singkat itu, akhirnya Dudi berjanji akan menemui kami di hotel keesokan harinya.

***

Ngomong-ngomong, kalau ada yang belum tahu separah apa selera makanku, silakan tanyakan ke waitres di Kedai Bambu (atau apalah namanya), Kartika Graha. Aku tamu paling lama yang makan di sana. Micha aja udah selesai sarapan dari kapan-kapan, aku masih dengan tenang nambah terus, hihihi... Bangga, ceritanya.

Setelah perut nyaris meletus, baru deh kami kembali ke kamar sambil beres-beres barang. Meskipun kami sudah mencanangkan untuk naik gunung, tapi satu kali pun kami belum pernah mencoba tenda maupun ransel. Yang lebih parah, tas ransel Converse-ku dinilai Micha sudah tidak layak pakai. Hiks-hiks-hiks..., gara-gara kepenuhan diisi makanan, pas Micha mau bawa, talinya nyaris lepas begitu.

Di kala asyik memindahkan barang ke dalam ransel (sebenarnya sih waktu lebih banyak aku habiskan dengan, "Sweetie, do we need this?" dan "Sweetie, I can't live without this, but my bag is full. Could you take this with you?"), Dudi pun tiba. Hore, hore, hore. Dia datang membawa seorang temannya. Saya lupa namanya, tapi beliau ini berasal dari Sumatera Selatan dan bekerja di Siemens Surabaya. Dan kata Dudi, beliau ini tukang naik gunung. Wah, Dudi memang baik!

Bersama mereka, kami pun bertolak ke himpunan pecinta alam-nya Unibraw, tempat Dudi dan temannya dulu menuntut ilmu. Yah singkat ceritanya, orangtuaku berutang terima kasih kepada Dudi dan teman-temannya. Kenapa? Karena merekalah Micha membatalkan niatnya naik Gunung Arjuna, dan menggantinya dengan Semeru. Mengapa ini begitu penting? Ya untuk itu ada kisah lain, hehehe...

Bantuan mereka nggak cuma sampai situ, aku benar-benar sampai terharu (sementara Micha jadi malu). Mereka pun mengantar kami ke Tumpang dan memperkenalkan kami kepada seorang ranger yang memiliki guest house, Rani, tempat kami menginap malam itu. Setelah dari Tumpang, kami pun makan siang di sebuah rumah makan. Lucunya, rumah makan Dapur 33 ini menjagokan masakan khas...Bandung, hahaha! Benar-benar tuan rumah yang baik! :-D



Belum cukup juga, kami diantar beli ransel baruku, di Eiger. Sebuah ransel berwarna merah dan hitam. Tepat kombinasi warna kesukaanku (dan jadi kembaran lagi sama Micha). Untuk hal-hal kayak gini, Micha pengertian deh..., termasuk juga soal ukuran ransel, hihihi. Ayo, coba tebak, yang mana ranselku?

Akhirnya, setelah dari Eiger (Micha beli kupluk di sana), Dudi dan teman-temannya pun kembali ke Unibraw sementara Micha dan aku ke Matos, berbelanja kebutuhan untuk menaklukkan Semeru (seperti yang sudah saya tulis, ini sebuah kisah lain lagi) dan kembali ke Tumpang.

Terima kasih banyak ya, Dudi...


Montag, Februar 06, 2006

 
Ke Blora Berburu Sate dan Gajah...

Di antara kota-kota yang Micha dan aku kunjungi di bulan Januari, adalah kota Semarang. Kenapa Semarang? Karena aku memang udah lama nggak ke Semarang, dan niat pengen makan loenpia-nya yang terkenal itu. Ya, sekalian deh...ketemu sama seekor gajah di sana, yang bernama Didik. Tapi dasar apes (apa untung?), saat kami di Ungaran dan menghubungi Didik sambil menikmati pisang goreng yang uenak tenan (sayang, nggak ada skrimsyut...soalnya Micha lagi bad mood, hihihi), eh ternyata Didik sedang di dalam kereta yang akan menransmigrasikannya (aduh, mana ya polisi EYD?) ke Jakarta.

Tapi, yang namanya jodoh memang nggak kemana-mana, lho! Kalau memang sudah harus ketemu sama gajah, ya pasti ketemu juga. Dari sms-smsan, aku tahu posisi gajah yang satu ini. Sebenernya sih, dari Wonosobo juga udah tahu posisinya, dan saat itulah aku merayu Micha ambil rute Wonosobo - Semarang - Blora...
(Lah? Kok lompat-lompat sih ceritanya? Ya maklum aja, udah lama tuh, kejadiannya...jadi rada lupa.)
Merayu Micha sih nggak susah kok. Aku bilang ke dia, kalau salah seorang sahabatku (oh, dia sudah hafal namanya) lagi di Blora. Trus dia bilang, "The one who is going to move to Lombok? Well, let's meet her then!"

Yah, gitu deh. Setelah nyasar dulu untuk keluar dari Semarang (virus nyasar tampaknya menghinggapi diriku), dan berkendara selama sekitar 3 jam, akhirnya kami sampai juga ke Blora. Micha demen banget sama jalan menuju Blora (dibandingkan Semarang yang menurut Micha "kota yang panas dan gak banyak pohon!" Aku sih sebelnya sama agresivitas para cewek di sana aja, yang histeris dan teriak-teriak minta perhatian Micha. Huh! Apa aku nggak cukup gede ya, buat terlihat?).

Begitu masuk Blora, aku diminta sahabatku itu buat nunggu di depan masjid yang berada di depan alun-alun. Nggak lama kemudian, datang deh sang gajah bersama adiknya. Benar-benar lega rasanya saat melihat Liza lagi. Waktu dia mengabarkan bahwa ia harus pindah ke Lombok, sempat sih terbersit dalam pikiranku bahwa aku tidak mungkin lagi bisa melihatnya, hiks-hiks-hiks. Tapi syukurlah, ada kesempatan juga!

Hal pertama yang kuminta dari Liza adalah, "Mana Sate Blora, Liz? Lapeeer nih!"
Hihihihi, Micha juga udah semangat banget mau makan sate. Maklum, dia memang doyan sate (bukan satenya sih, tapi lebih ke bumbu kacangnya). Ya udah, pergilah kami ke pasar yang isinya tukang jualan sate semua. Katanya Liza sih, mereka heboh lihat Micha. Ahai, susah memang kalau punya laki yang terkenal, hihihi.

Biarpun dulu aku pernah makan sate di Blora, aku masih kaget juga...saat nyadar kalau kami makan tidak dibatas. Wah, kesempatan deh. :-p
Sempat deg-degan juga sih, kalau-kalau Micha milih sate kambing. Tapi untungnya dia ingat kalau sang navigator tercintanya ini gak doyan daging kambing, hehehe.
Ya udah deh, makan banyaaak banget. (Banyak tusuknya, tapi rasanya sih belum kenyang juga. Ya masih bisa deh, ngabisin satu gerobak.)
Liza baik banget lagi, kami ditraktir. Hore! Micha jadi nggak enak gitu, tapinya. :-p

Sehabis ngerampok Liza, kami diundang untuk ke rumahnya, untuk berkenalan dengan sang ibunda. Di sini, lagi-lagi Micha jadi bahan perhatian sekitar. Agak sirik juga, kan biasanya aku yang jadi pusat perhatian. Huh! (hehehe, kidding!)
Rumah ortunya Liza ternyata nyaman banget. Adem gitu, banyak piaraan juga, mulai dari ikan, burung, sampai tanaman (itu termasuk piaraan kah?). Micha jelas demen, karena banyak yang baru buat dia. Dia bahkan sempat naksir sebuah sepeda pajangan, dan bertanya di mana beli barang itu. :-D
Oh iya, sambil melepas lelah, kami juga masih sempat-sempatnya merampok rambutan di rumah Liza, hihihi.

Justru karena hobi merampok itu kali ya..., kami jadi dapat musibah. :-p
Pas mau keluar dari rumah (pamitan dulu lho!), kepala Micha kejedug bingkai pintu (lagi-lagi gak ada skrimsyut!). Swear dah, aku sampai kaget banget. Lah, suaranya keras gitu. Kepalanya juga langsung merah gitu. Aku udah takut aja dia sampai kenapa-napa. Tapi untungnya, nggak apa-apa. Dia cuma pusing dan jadi ngaco aja. Bayangin aja, masa' dia masuk mobil lewat pintu kiri? Lah, ya saya bengong! Masa' aku disuruh nyetir?! Untung dia langsung sadar, begitu melihat bahwa setir itu ada di bangku sebelah kanan, hihihi.

Yah, walaupun hanya sebentar bertemu Liza, tapi itu sudah cukup memuaskan. Terima kasih lho, Liz! For the great time we had at Blora. Salam buat junior dan bapaknya, ya!

Eh iya, Liza juga menuliskan cerita ini di blognya.

Dienstag, Dezember 13, 2005

 
Just The Two of Us: A Kind of Kopdar?

Jumlah peserta minimum kopdar memang masih belum ditentukan, jadi saya anggap acara makan malam antara Liza dan saya sebagai kopdar.

Sore hari, tanggal 8 Desember, saat tengah berbaring malas di tempat tidur (seharian
menemani adik diving di Sanur, dan sempat mabuk laut --hingga saat Micha menelepon, baru segar lagi deh! Hihihi), aku menerima sms dari Liza. Isinya sebaiknya tidak dibeberkan di sini, semata-mata untuk menghindari spekulasi dan gossip yang terkadang benar adanya. Intinya, Liza bertanya apakah ada waktu jika ia datang ke hotel, karena dia merasa belum puas meluangkan waktu bersama di malam sebelumnya (lho, kok jadi membocorkan semua isi sms? Hihihi). Nah kan, kompak lagi! Memang kami juga belum puas, Liz, hahaha!

Pukul 19:00, kami sekeluarga sudah siap menanti kedatangan Liza dan Mas Ajun. Ya siap dalam artian sudah mandi dan berpakaian, namun masih berbaring malas di tempat tidur sambil menonton TV (filmnya jorok banget! Penuh dengan kecoak, hihihi!). Lima belas menit kemudian, Liza dan Mas Ajun pun tiba. Sayangnya, Mas Ajun nggak bisa lama-lama karena harus kembali ke kantornya. Tapi nggak apa-apa deh, toh istri tercintanya dititipkan ke kami, hehehe.

Sesuai dengan keinginan Papa, kami memutuskan untuk pergi makan malam di Wayan and Friends, dekat Hotel Padma. Saat kami melewati restoran ini, sehari sebelumnya, Papa tergoda untuk mencoba karena terlihat banyak orang asing yang makan di sana (menurut Papa, itu bisa menjadi parameter kelezatan makanan yang disajikan). Tempatnya sih memang lumayan. Di meja depan pun sudah ada beberapa orang asing (yang nggak perlu diperhatikan pun sudah terasa bahwa mereka gak qualified buat jadi yamidedi), di dalam pun beberapa meja sudah terisi (hanya kami turis lokal yang makan di sana, saat itu. Pengecualian buat Liza yang bukan turis, hehehe).

Bertolak belakang dengan Cabe Rawit, kali ini kami memiliki beragam pilihan kuliner western. Jadi kami berempat memesan steak, dengan varian yang berbeda. Jim memesan salah satu menu spesial hari itu, Tournedo. Papa pesan black pepper steak. Sementara Liza dan saya (lagi-lagi kompak!) memesan steak Lou Lou something gitu lah (nggak ingat nama, yang pasti sih beef steak dengan creamy cheese cream). Untuk minumannya, seperti biasa, Jim dan Papa berbagi sebotol bir besar sementara Liza memesan jus mangga, dan segelas lemon tea untuk saya.

Makanannya sih biasa-biasa saja. Harganya terbilang mahal untuk ukuran kualitas rasanya. Nggak direkomendasikan deh. Eh iya, ada kejadian yang nyebelin juga. Aku kan pesan dagingku dimasak medium, sementara Liza well done. Eh, tertukar! Sebalnya lagi, kami baru ngeh pas sudah menghabiskan setengah steak! Pas protes juga nggak dapat ganti rugi, hihihi...

Pas lagi asyik-asyiknya makan, something happened. Sebuah penampakan! Memang insting saya tajam banget kali ya (kalau menyangkut cowok, hahaha!). Meskipun saya duduk memunggungi pintu masuk, tapi kedatangan seorang cowok langsung 'tercium'.
Dan begitu lihat cowok itu, aku langsung bengong (nggak ding, yang bener tuh langsung heboh!). Ini dia si cowok (foto diambil diam-diam, tentunya. Tapi sialnya, di jepretan terakhir, aku lupa mematikan flash!).

Merasa kenal? Pernah lihat?
Yang pasti sih, pas aku lihat orang itu, aku sampai mikir, "Lho? Kok Yayang ada di Bali?" Hihihi... . Tapi setelah shock-nya hilang (jelas shock dong! Kalau itu benar-benar Micha kan artinya aku nggak bakalan bisa leluasa ngeceng selama di Bali!), langsung bisa membedakan. Bentuk kepala beda, bentuk telinga beda, bekas cukuran rambutnya juga berbeda (yang di Bali ini rambut bagian depannya sudah botak, Micha kan belum), bekas cukuran di rahangnya juga beda, kacamatanya beda, hidungnya beda, bibirnya beda, dan tubuh Micha lebih tinggi serta kekar (duh! Jadi kangen abis!).
Yang pasti sih, pas aku kasih lihat Micha foto itu, dia sendiri komentar, "Oh! This guy really almost looks like me! Astonishing!"
Tadinya pengen nanya sih ke Micha, apa bapaknya dulu pernah kencan sama cewek Selandia Baru, tapi nggak tega, hihihi.
Eh, tapi cowok yang mirip Micha itu sama sekali bukan yamidedi lho! Tampang boleh mirip, tapi aura berbeda jauh. You're still the best (so far), mein Schatz!

Selesai makan, kami memutuskan untuk berjalan kaki (meski rintik hujan terus jatuh dari langit). Tujuan kami satu: pantai Padma. Tahun lalu, sebelum aku berpesta-pora di Oktoberfest yang diadakan di Mama's German Restaurant, Liza juga menemani kami duduk di tepi pantai ini, menikmati sunset (sayangnya, kali ini kami tidak dapat menikmati pemandangan itu, hanya kelam malam, angin pantai, dan suara ombak yang sudah cukup memuaskan).

Meskipun rencana awalnya Mas Ajun akan menjemput Liza setelah kami selesai melepas rindu
(masih rindu nih...), tapi akhirnya kami putuskan untuk mengantarkan Liza ke rumahnya, yang terletak di sebelah warnet.
Nah, apa jadinya jika Joan ketemu warnet? Ya langsung masuk lah, nge-junk bareng Liza, hahaha! Untungnya Papa dan Mas Ajun paham dan bersabar menunggu. :-p

Saat malam bertambah larut, dan hujan besar bersiap turun, kami pun berpamitan... . Perjumpaan terakhir di tahun ini. Semoga Micha mau ke Bali bulan depan, biar bisa sekalian ke Amed bareng Ina, dan seperti kata Liza...dapat restu langsung, hahaha!

Sonntag, Dezember 11, 2005

 

Kopdar Bali Karet

Tanggal 6 hingga 10 Desember 2005 kemarin saya dan keluarga (Papa dan adik, James) berlibur ke Bali. Libur tahunan yang dimaksudkan untuk acara kumpul-kumpul keluarga, yang seperti kata Papa, adalah sebuah keharusan.

Liburan kali ini berbeda dari sebelum-sebelumnya. Kalau tahun kemarin saya memiliki Liza dan suaminya, Mas Ajun, untuk dijenguk, kali ini saya memiliki beberapa orang teman lain dari Kampung Gajah yang menetap di pulau tersebut. Saat berangkat saja, saya sudah diberi amunisi yang sangat banyak untuk para Gajah Bali. Meskipun saya mampu meringkas semua barang kebutuhan saya dalam ransel Converse kesayangan saya --dalam upaya berlatih jalan-jalan a la backpacker dan menyesuaikan diri dengan Micha-- dan tas tangan (plus satu tas penuh oleh-oleh berupa molen Prima Rasa dari Bunda, brownies kukus Amanda dari Mira, dan brownies Kartika Sari pesanan Liza...atau permintaan sang jabang bayi nih? Hehehe), rasanya sama beratnya seperti saya waktu itu membawa koper dan tas. Eh, bukannya saya keberatan lho ya! Senang kok!

Karena tiba di Denpasar hampir tengah malam (eh, ada yamidedi cakep lho! Italiano! Papa sih langsung cengengesan, beliau udah hafal sama seleraku yang demen sama tipe Latino), kami (para Gajah, walaupun pengennya sih sama si Italiano itu, hiks-hiks-hiks) sepakat untuk kopdar keesokan malamnya, yaitu tanggal 7 Desember. Saling berkirim sms dan ditelepon Dian Ina, kami sepakat untuk berjumpa di Circle K dekat Kamasutra, pukul 7 malam. Tadinya Ina menawarkan pilihan lain, yaitu Circle K dekat Discovery Mall, yang terletak di sebelah hotel tempat kami (saya dan keluarga, bukan saya dan Ina) menginap, namun saya yang sangat penasaran dengan Kamasutra dan kehidupan malam (memangnya cuma Micha yang bisa dugem? Hihihi...), memilih Kamasutra.

Pukul 17:30 saya kembali ke hotel (setelah sempat nge-junk dan ikut arisan) untuk bersiap-siap menyambut Liza dan Mas Ajun yang ingin bertemu terlebih dahulu. Iya dong! Papa juga udah sibuk menanyakan, "Kapan ketemu Ajun?", jadi semangat deh saat Liza bilang mau main ke hotel. Ternyata Liza baru bisa datang pukul 19:00, jadi saya kirim sms ke Ina, bilang kalau saya dan Liza akan (sedikit) terlambat.

Menunggu di bar hotel (lumayan juga, cukup menarik perhatian seorang yang ingin bersertifikat yamidedi, tapi sayangnya tidak qualified. Maaf, nggak ada skrinsut karena saya tidak selera membidiknya), dan di saat surat kabar nyaris habis aku lahap, Liza dan mas Ajun pun tiba. Wah, kangen banget sama Liza! Calon ibu ini masih cute! Mas Ajun juga masih sama. Rasanya satu tahun dua bulan kami berpisah itu menguap begitu saja. Ngobrol ngalor-ngidul (pengecualian bagi Papa dan Mas Ajun yang tenggelam dalam obrolan dunia kerja dan ekonomi, sosial serta politik Bali...dan atas permintaan Liza, skrinsut yang ini tidak dapat dipublikasikan), dan sempat pegang perut Liza (hi keponakan!), dan akhirnya kami pun berangkat. Liza dan mas Ajun berangkat lebih dulu dengan motor Supra hitam mereka, sementara kami mengikuti mereka dengan Katana sewaan kami (maklum, kami nggak tahu di mana itu Kamasutra, hihihi).

Jarum-jarum di jam tanganku menunjukkan bahwa waktu telah hampir jam 20:00 saat kami tiba di Circle K. Merasa cemas karena aku begitu terlambat, ternyata kecemasanku segera berganti menjadi kebingungan. "Mana Dian Ina ya? Didats pun tak tampak..."
Telepon selular Ina tidak aktif, dan aku tidak tahu nomor telepon Didats maupun Saylow. Saat kebingungan seperti itu, tentunya hal paling bijak adalah menelepon Bunda tercinta, sang sekretaris Kampung merangkap 108 (atau Yellow Pages, tergantung kepada selera masing-masing). Didats ternyata sedang banyak pekerjaan dan berjanji jika sudah selesai ia akan segera menyusul (ia tidak lupa meminta maaf), sementara Saylow (yang nomornya saya dapatkan dari Didats) ternyata sedang bersiap-siap untuk mandi. Kami sepakat untuk menunggu Ina beberapa menit lagi (sebelum perut kami menjerit ingin diisi makanan).

Keputusan yang sangat tepat, karena ternyata tak lama berselang, Ina dan motornya pun tiba. Katanya sih Ina baru facial lho, hihihi. Tapi bukan karena itu ia terlambat.
Begitu Ina tiba dan bergabung bersama kami, topik pembicaraan pun berganti. Kami menjadi sangat serius mempertimbangkan masalah krusial saat itu: tempat makan. Jim (nama panggilan adik saya yang omong-omong bisa juga dipanggil Jimmy, Jimbong, dan sebagainya) dan saya menyerahkan urusan ini kepada para Gajah Bali, sementara Papa dengan polosnya menambahkan satu pilihan tempat makan (yang tidak dikenal para Gajah!). Setelah berembug (sebenarnya nggak seserius itu, hanya saja saya mendesak...karena perut saya belum diisi sejak sekitar 4 jam sebelumnya, hihihi), akhirnya diputuskan bahwa kami akan makan di Cabe Rawit.

Liza dan Mas Ajun lagi-lagi menjadi pemandu jalan. Ina tidak jadi ikut mobil sewaan kami, karena Mas Ajun mengkhawatirkan keselamatan motor Ina yang rencana awalnya mau ditinggal saja di depan Circle K, ia mengendarai motornya, membuntuti Liza.
Ternyata Cabe Rawit asyik juga! Tempatnya tenang, dan bernuansa retro. Penerangannya pun redup dengan nuansa romantis (really wish you were there with us, Sayangku!), pilihan menunya pun beragam, tentunya masakan Indonesia.

Ina memesan Lontong Cap Go Meh dan juice semangka (iya, Ina?), Jim pesan Ayam Bakar Taliwang dan bir Bintang besar (untuk dibagi dua dengan Papa), Papa pesan Gado-gado (mau jaim, sepertinya), Mas Ajun pesan sate kambing dan lontong plus lemon tea, Liza dan aku yang memang seleranya mirip-mirip, memesan bihun goreng spesial dan lemon tea.
Makanannya lumayan lho, dan harganya juga bisa dibilang murah untuk ukuran Bali (jangan bandingkan dengan Warung Murah --warteg kesukaan saya-- yang terletak di Double Six, Legian). Di kesempatan ini, Papa asyik ngobrol dengan Ina (bukan, ini bukan flirting!) tentang lukisan (Papa semangat sekali saat tahu bahwa Ina bekerja di galeri seni), Mas Ajun ngobrol bareng Jim, sementara aku dan Liza asyik ngerumpi.

Setelah piring-piring makan kami bersih, kami mulai sesi foto-foto. Ina masih malu-malu terhadap kamera (karena baru facial itu), dan kami pun sepakat untuk kembali ke Circle K Kamasutra untuk bertemu Saylow dan Didats (tentunya setelah menurunkan Papa ke hotel. Meskipun beliau ngotot bahwa dirinya belum terlalu tua dan masih bisa mengikuti lagu gembrang-gembrung jaman sekarang, tapi Jim dan saya belum cukup gila untuk membiarkan Papa ikut ke Kamasutra...demi kebaikan diri kami berdua, tentunya). Oh iya, Liza menaraktir kami lho! Terima kasih banyak ya, Liza dan Mas Ajun! Jadi malu, hihihi (kalau tahu, makannya lebih banyak! Hahaha! Bercanda, Liz!)

Sempat nyasar dulu, karena Jim kehilangan jejak para pemandu (jangan salahkan penumpang yang duduk di bangku belakang!), kami akhirnya tiba juga di hotel (lha elah, tuh bule yang kebelet pengen jadi yamidedi masih nongkrong di sana, kali ini lagi asyik ngobrol sama satpam hotel. Senyumannya masih kuanggap angin. Belagu banget gak sih, aku ini? Hihihi). Di saat itu lah (setelah Liza dan Mas Ajun pamit pulang), adikku menyadari bahwa dompetnya hilang! Tidak ada di sakunya. Tidak ada di tas tanganku. Hilang. Raib.

Wah, panik deh, mencarinya. Maklumlah, Jimmy bawa uang tunai dalam jumlah yang cukup berharga, ditambah lagi semua kartu-kartu yang ia simpan di dalam dompet. Tidak lupa juga SIM dan kartu identitas lainnya (KTP sih disimpan di front office hotel). Cari sana-sini (sambil pinjam senter ke Pak Satpam, dan jadi perhatian yamidedi gagal) tanpa hasil, akhirnya aku menelepon Liza yang langsung meluncur kembali ke Cabe Rawit. Singkat cerita (karena sama sekali nggak nyambung sama kopdar), Cabe Rawit sudah tutup dan Mas Ajun berjanji akan ke sana pagi-pagi, sebelum ia berangkat kerja. Terima kasih banyak, Mas!

Kaget juga sih, pas Jim bilang, "Ayo pergi!"
Aku bahkan sama sekali nggak berpikir tentang pergi ke Kamasutra dengan adanya musibah itu. Tapi adikku dengan bijak menjawab, "It's happened, and I'm prepared for the worse. It's awful, but don't let it make us ruin the fun we're having!"
Jadi meluncurlah kami ke Circle K (Papa sudah sukses goleran di tempat tidur -- dua single bed yang kami satukan sehingga muat untuk kami bertiga), menemui Ina beserta teman-teman ceweknya (cantik-cantik, lho!). Didats dan Saylow pun muncul tak lama kemudian (Saylow langsung beli bir Bintang! Tapi kok adikku nggak dibagi, Low? Hihihi). Saylow dengan bangganya menyatakan bahwa sejak di Bali, Didats tidak pernah lagi mengenakan kupluk. Nggak tahu juga kenapa Saylow bisa seyakin itu. Apa karena mereka bersama-sama selama 24/7? Hihihi...

Selagi adikku sibuk dengan teleponnya, untuk memblokir semua kartunya, kami ngobrol. Tepatnya para cowok ngobrol sendiri, para cewek juga ngobrol sendiri, hehehe. Di saat inilah, oleh-oleh dari Bandung dikeluarkan untuk dinikmati para Gajah Bali.
(Catatan: Didats dan seorang teman Ina mempertanyakan apakah aku dan Jim benar-benar kakak-beradik. Hahaha! Basbang!)

Akhirnya aku masuk diskotik lho! (Eh, Kamasutra itu diskotik kan?)
Sayangnya, harus bayar minuman di muka...jadinya ya batal deh, hihihi. Cuma sampai ke kasir doang, tapi minimal udah sempat merasakan suasananya, hehehe. Didats, Saylow, dan seorang teman Saylow (kok gak dikenalin sih? Tapi nggak apa-apa deh, bukan calon yamidedi maupun brondong titipan Bunda dan Mira ini...). Sementara sisanya memutuskan untuk pulang (terutama Ina yang keeseokan harinya harus berangkat ke Singapura). Bonnie, salah satu teman Ina itu, mengajak untuk diving ke Amed, tapi ya dengan tragedi raibnya dompet ya nggak bisa deh. Padahal Jim ngebet banget pengen diving...

Oh ya, buat yang penasaran atau yang peduli, dompet adikku akhirnya ditemukan! Terima kasih banyak, Mas Ajun! Mas Ajun menunggui restoran itu sampai buka, padahal ia harus buru-buru ke kantornya, lho... . Muach-muach-muach buat sang istri dan calon anak mereka!

P.S.: Siang sebelum kopdar dengan Gajah Bali, saya sempat juga bertemu dengan tokoh penting Indo Harry-Potter, Bang Edu, beserta istrinya, Mbak Nitta, di dekat Bread Talk Discovery Mall. Meskipun tidak lama (karena mereka hendak terbang ke Pontianak), rasanya senang juga bisa bersua kembali! Kapan main ke Bandung lagi, Bang?

This page is powered by Blogger. Isn't yours?