Montag, Februar 06, 2006

 
Ke Blora Berburu Sate dan Gajah...

Di antara kota-kota yang Micha dan aku kunjungi di bulan Januari, adalah kota Semarang. Kenapa Semarang? Karena aku memang udah lama nggak ke Semarang, dan niat pengen makan loenpia-nya yang terkenal itu. Ya, sekalian deh...ketemu sama seekor gajah di sana, yang bernama Didik. Tapi dasar apes (apa untung?), saat kami di Ungaran dan menghubungi Didik sambil menikmati pisang goreng yang uenak tenan (sayang, nggak ada skrimsyut...soalnya Micha lagi bad mood, hihihi), eh ternyata Didik sedang di dalam kereta yang akan menransmigrasikannya (aduh, mana ya polisi EYD?) ke Jakarta.

Tapi, yang namanya jodoh memang nggak kemana-mana, lho! Kalau memang sudah harus ketemu sama gajah, ya pasti ketemu juga. Dari sms-smsan, aku tahu posisi gajah yang satu ini. Sebenernya sih, dari Wonosobo juga udah tahu posisinya, dan saat itulah aku merayu Micha ambil rute Wonosobo - Semarang - Blora...
(Lah? Kok lompat-lompat sih ceritanya? Ya maklum aja, udah lama tuh, kejadiannya...jadi rada lupa.)
Merayu Micha sih nggak susah kok. Aku bilang ke dia, kalau salah seorang sahabatku (oh, dia sudah hafal namanya) lagi di Blora. Trus dia bilang, "The one who is going to move to Lombok? Well, let's meet her then!"

Yah, gitu deh. Setelah nyasar dulu untuk keluar dari Semarang (virus nyasar tampaknya menghinggapi diriku), dan berkendara selama sekitar 3 jam, akhirnya kami sampai juga ke Blora. Micha demen banget sama jalan menuju Blora (dibandingkan Semarang yang menurut Micha "kota yang panas dan gak banyak pohon!" Aku sih sebelnya sama agresivitas para cewek di sana aja, yang histeris dan teriak-teriak minta perhatian Micha. Huh! Apa aku nggak cukup gede ya, buat terlihat?).

Begitu masuk Blora, aku diminta sahabatku itu buat nunggu di depan masjid yang berada di depan alun-alun. Nggak lama kemudian, datang deh sang gajah bersama adiknya. Benar-benar lega rasanya saat melihat Liza lagi. Waktu dia mengabarkan bahwa ia harus pindah ke Lombok, sempat sih terbersit dalam pikiranku bahwa aku tidak mungkin lagi bisa melihatnya, hiks-hiks-hiks. Tapi syukurlah, ada kesempatan juga!

Hal pertama yang kuminta dari Liza adalah, "Mana Sate Blora, Liz? Lapeeer nih!"
Hihihihi, Micha juga udah semangat banget mau makan sate. Maklum, dia memang doyan sate (bukan satenya sih, tapi lebih ke bumbu kacangnya). Ya udah, pergilah kami ke pasar yang isinya tukang jualan sate semua. Katanya Liza sih, mereka heboh lihat Micha. Ahai, susah memang kalau punya laki yang terkenal, hihihi.

Biarpun dulu aku pernah makan sate di Blora, aku masih kaget juga...saat nyadar kalau kami makan tidak dibatas. Wah, kesempatan deh. :-p
Sempat deg-degan juga sih, kalau-kalau Micha milih sate kambing. Tapi untungnya dia ingat kalau sang navigator tercintanya ini gak doyan daging kambing, hehehe.
Ya udah deh, makan banyaaak banget. (Banyak tusuknya, tapi rasanya sih belum kenyang juga. Ya masih bisa deh, ngabisin satu gerobak.)
Liza baik banget lagi, kami ditraktir. Hore! Micha jadi nggak enak gitu, tapinya. :-p

Sehabis ngerampok Liza, kami diundang untuk ke rumahnya, untuk berkenalan dengan sang ibunda. Di sini, lagi-lagi Micha jadi bahan perhatian sekitar. Agak sirik juga, kan biasanya aku yang jadi pusat perhatian. Huh! (hehehe, kidding!)
Rumah ortunya Liza ternyata nyaman banget. Adem gitu, banyak piaraan juga, mulai dari ikan, burung, sampai tanaman (itu termasuk piaraan kah?). Micha jelas demen, karena banyak yang baru buat dia. Dia bahkan sempat naksir sebuah sepeda pajangan, dan bertanya di mana beli barang itu. :-D
Oh iya, sambil melepas lelah, kami juga masih sempat-sempatnya merampok rambutan di rumah Liza, hihihi.

Justru karena hobi merampok itu kali ya..., kami jadi dapat musibah. :-p
Pas mau keluar dari rumah (pamitan dulu lho!), kepala Micha kejedug bingkai pintu (lagi-lagi gak ada skrimsyut!). Swear dah, aku sampai kaget banget. Lah, suaranya keras gitu. Kepalanya juga langsung merah gitu. Aku udah takut aja dia sampai kenapa-napa. Tapi untungnya, nggak apa-apa. Dia cuma pusing dan jadi ngaco aja. Bayangin aja, masa' dia masuk mobil lewat pintu kiri? Lah, ya saya bengong! Masa' aku disuruh nyetir?! Untung dia langsung sadar, begitu melihat bahwa setir itu ada di bangku sebelah kanan, hihihi.

Yah, walaupun hanya sebentar bertemu Liza, tapi itu sudah cukup memuaskan. Terima kasih lho, Liz! For the great time we had at Blora. Salam buat junior dan bapaknya, ya!

Eh iya, Liza juga menuliskan cerita ini di blognya.

Comments:
weks, enak kali bisa jalan jalan, en salam kenal yah, aku baru memasuki kampung gajah....ha ha ha ha
 
waaaa...asiknya jalan2 muluw.
kapan adis bisa ketemu joan dan berburu yamidedi bareng..hihihi..lho??
 
wah seru bgt jalan2nya.., gw blm pernah loh ke semarang, tp makn lunpianya sih udah pernah.. hehe..

btw, thx yah udah mampir..
 

emang ada pasar yang isinya semua penjual sate? lol

tampak lucu aja.

sekali lagi: adalah kejahatan berkisah ttg makanan lezat kepada mereka yang tidak memiliki akses terhadap makanan tersebut!

ciao ciao

 
halah jauh² cuma cari sate :D
 
aduuuuuuuuh, lama gak liat muka si molly.. tau-tau aja nongol di sini. hehehehehe..
 
huuuuh jalan jalan moloooo
ga ngajak ngajak

pokoknya someday joan harus kopdar sama leqa yah :)
 
Wuah,.,.,.Semaran9 is my hometown lowh!!!
Makasie ya da mampir k blogqu,.,. blw 9imana caranya biar ikut kampun9 9jah ??
 
To Ayu: Coba tanya sama Didats, hehehe...
 
lumpiaaaa....
aku masih pengen lumpiaaaaa!!!
 
Hi Joan.. buat dong novelnya, biar keren. Pasti aku pesan satu Exp. Hehehe... Vielen Gruesse und schoene Tag noch! Tschuess!
 
Kommentar veröffentlichen

Links to this post:

Link erstellen



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?