Freitag, März 24, 2006

 
Ranu Kumbolo dan Impian Yang Pupus

Kali ini, tidak ada hubungan langsung dengan kopdar maupun Kampung Gajah, tapi...aku ingin menulis kisah ini, sekalian juga mengabulkan request-nya Dudi.

Malam sebelum kami berangkat ke Ranu Pane, kami nyaris tidak bisa tidur, padahal badan sudah sangat lelah. Aku lumayan merasa takut (akan harimau kumbang, ular, dan teman-temannya) sementara Micha merasa excited. Tapi toh lewat tengah malam kami terlelap juga dan bangun jam 5 untuk mandi dan sarapan.

Rencana ingin menghilang dari peradaban selama 4-5 hari, gagal. Harusnya sih nggak gagal, mengingat aku udah bilang kalau aku bersedia kok untuk meneruskan perjalanan...tapi Micha punya pendapat lain, dan memutuskan bahwa untuk mencapai Ranu Kumbolo sudah cukup bagi kami berdua. Kepada orang-orang, Micha mengaku bahwa beban yang ia bawa terlalu berat dan kondisi tidak memungkinkan: musim hujan menyebabkan banyak tanah yang longsor, pohon yang tumbang (saya benci pohon tumbang, yang membuat kami harus merangkak di bawahnya!), dan juga semak-semak belukar yang lebat dan menutupi jalan setapak.
Tapi saya tahu ada satu alasan lain yang tidak ia katakan kepada orang-orang: aku.

Saat kami tiba di Ranu Kumbolo (alhamdulillah...kami mencapainya dalam waktu 7 jam, saat orang-orang biasanya hanya membutuhkan waktu 4 jam saja... Bangga, ceritanya),

dan Micha sedang mencari tempat yang paling baik untuk mendirikan kemah, sementara aku dengan bahagianya melempar ranselku (yang mungil, kalau dibanding ransel Micha) ke tanah, tiba-tiba hujan turun dengan derasnya. Micha segera berlari ke tempat aku berdiri sambil panik, dan ia mendirikan tenda. Bukan pekerjaan yang mudah karena tenda itu baru dan kami sama sekali belum pernah mencobanya.

Begitu tenda terpasang (meski belum sepenuhnya), Micha segera memintaku untuk masuk ke dalam dan membuka semua bajuku (tidak ada krimsup!) dan menggantinya dengan baju hangat dan kering. Aku masih sempat-sempatnya protes, "Tendanya kecil banget, Sayang!", saat kemudian dia masuk ke dalam tenda dalam keadaan basah kuyup. (Kalau sekarang aku mengingatnya, aku jadi sedih...kok bukannya aku nyodorin baju kering atau handuk, malah ngomel..., padahal aku udah kering dan hangat sementara dia masih basah kuyup dan kedinginan...)



Untungnya, hujan itu hanya sebentar sehingga kami bisa masak air untuk menikmati Mie Gelas (bukannya ngiklan) dan cereal sebelum tidur. Jam 16:00 kami sudah menggelar sleeping bag kami dan tidur. Kelelahan kami benar-benar membuat kami tidur pulas, namun sekitar pukul 19:00 saya sudah terbangun. Begitu banyak suara yang membuatku ketakutan, dan juga aku memang tidak terbiasa untuk tidur di luar jam tidurku. Gelap, dan suara-suara asing membuatku semakin takut dan...membangunkan Micha yang dalam keadaan ngantuk menjawab, "Sayang, ini kan masih gelap. Tidur lagi gih!"

Jelas saja aku nggak nurut. Aku bangunin dia lagi (kali ini dia bersedia untuk membuka matanya) dan nanya, "Itu suara apa?"
"Jangkrik."
"Kalau itu?"
"Burung."
"Memangnya burung masih bangun jam segini?"
"Ada yang beraktivitas di malam hari."
"Terus, itu suara apa?"
"Ikan."
"Sejak kapan ikan bersuara?"
"Suara air saat ikan melompat."
"Ngapain lompat dari air?"
"Mungkin ada serangga dan dia mau makan serangga itu."
"Yakin bukan harimau kumbang?"
"Yakin."
"Bukan ular?"
"Nggak ada ular."
"Dari mana bisa yakin kalau itu bukan harimau kumbang?"
"Karena harimau kumbang itu pemalu. Dia nggak suka dekat-dekat manusia, kecuali kita bawa daging mentah."
"Kalau hantu gimana?"
"???"
"..."
"Nggak ada hantu, Cintaku. Jangan takut."
"Tapi aku takut."
"Pakai sweater-mu. Kita jalan-jalan dan bikin api unggun."

Meskipun aku pakai T-shirt, dua baju hangat dan sweater, lalu aku pakai kaos kaki wol yang dibuat khusus oleh mamanya Micha, serta didobel lagi dengan kaos kaki wol lainnya, pakai kupluk dan sarung tangan wol, rasanya masih dingin... Brrr...
Aku juga tahu bahwa Micha juga kedinginan, mengingat dia hanya pakai T-shirt dan sweater plus kaos kaki biasa, dari tangannya. Iya dong, gandengan tangan biar hangat dan...biar aku nggak diculik setan. -__-

Kami berkeliling sebentar untuk membuktikan bahwa memang hanya ada kami di Ranu Kumbolo, selain serangga, ikan, dan semacamnya. Dan yang paling penting, nggak ada harimau kumbang, ular, maupun hantu. Setelah itu, baru deh Micha mencari ranting-ranting untuk api unggun. Aku yang bertugas memegang dan membawa ranting-ranting itu, dengan kedua tanganku. Micha juga membawanya meskipun dengan satu tangan (karena yang satu lagi dan kakinya bertugas mencari dan mengambil ranting lainnya). Lama kelamaan berjalan beriringan itu nggak efektif. Akhirnya diputuskan bahwa Micha mencari ranting, aku yang bertugas membawanya ke depan tenda dan kembali lagi ke Micha untuk mengambil ranting yang sudah ia kumpulkan. Tapi beneran..., biarpun aku nggak membantah, tapi aku takuuuut banget.

Ternyata...bikin api unggun itu sulit banget! Udah disiram bensin, pakai koran, siram bensin lagi, tetep aja gagal. Nyala sih, tapi sebentar banget, trus tinggal bara api. Micha udah niup-niup terus juga tetap bara api. Kata Micha, kayunya terlalu basah karena hujan dan yang paling utama adalah kadar oksigen yang kurang. Ya akhirnya sih kami duduk saja di atas koran yang dihamparkan di atas rumput, memandangi langit yang dihiasi sedikit bintang. Enak rasanya, pas menyandarkan kepala di bahu dia. Sayangnya, kehangatan dirangkul itu nggak cukup, karena suhu semakin dingin saja membuat kami sepakat untuk masuk ke dalam tenda dan tidur lagi.

Tapi ternyata itu tidak berhasil, aku masuk angin dan nyaris muntah. Baru kali itu Micha jadi gusar. Akhirnya kami keluar lagi, sampai aku merasa baikan. Micha terus nemenin, walaupun aku tahu dia kedinginan...
Entah kenapa, aku melupakan minyak kayu putih yang sengaja aku bawa untuk meringankan gatal-gatal kalau Micha sampai digigit nyamuk. :-(

Setelah aku baikan, kami pun kembali ke dalam tenda, dan Micha menyatukan sleeping bag kami, supaya lebih hangat, katanya. Dan kali ini...kami berhasil tidur hingga hari berganti.

Siapa yang sangka dengan matahari yang begitu tinggi dan suhu yang juga tinggi, ternyata baru pukul 5 pagi? Karena masih pagi, kami pun bermalas-malasan dulu di dalam tenda.
"Aku sudah segar lagi. Aku mau kok, kalau kita terus," kataku.
"Benar?"
"Iya. Biarpun capek banget, tapi semua ini berharga."
"Memang, tapi bukan ide yang baik kalau kita teruskan."
"Kenapa?"
"Kita berdua nggak dalam kondisi prima, dan seperti orang-orang bilang, cuaca dan musim nggak mendukung."
"Yakin?"
"Ya. Oke, sekarang aku nyalain api, kamu tolong siapkan makanan ya. Dan juga teh."

Selepas sarapan, aku pun beres-beres sleeping bag, sambil bermalas-malasan, sementara Micha di luar. Penasaran dengan apa yang dilakukan Micha di luar, aku melongok ke luar. Dan ternyata Beruangku itu lagi jemur baju kami yang basah karena hujan! Aduh! Langsung deh aku balik beres-beres, kali ini tanpa malas-malasan, hehehe. Teriknya matahari membuat semua pakaian basah itu kering dalam tempo setengah jam, dan dalam tempo itu juga kulit Micha lagi-lagi terbakar...lupa bawa sunblock sih.

Selesai beres-beres dan siap berangkat, ada tiga orang pendaki juga yang berpapasan, mereka turun dan memberi salam kepada kami. Kami benar-benar kagum sama mereka. Bayangkan saja, mereka bawa gembolan segede itu dengan santai dan pakai sandal jepit pula! Tapi ya karena bertemu mereka juga, kami jadi tidak segera berangkat. Males ah, kalau beramai-ramai...nanti kan kelihatan kalau aku jalannya pelan, padahal udah pakai tas ransel yang pakai teknologi apa gitu (yang kata Micha, membantu kita merasa nyaman dan nggak merasa terlalu kepanasan di punggung) dan juga sepatu khusus (lagi-lagi ini pilihan Micha), hihihi.

Oh ya, kalau malam sebelumnya kami gagal punya api unggun, pagi itu ceritanya lain lagi lho. Micha berhasil bikin api unggun. Sayang, nggak ada fotonya, cuma ada movie. :-p

Hari baru memberikan semangat baru, apalagi matahari tampak begitu bersahabat, dan ditambah juga dengan semangat dari Micha, "Perjalanan pulang lebih cepat dan mudah kok daripada perginya."

Tapi ternyata...itu salah!

Ya nggak sepenuhnya salah sih, tapi jalanan menurun itu ternyata menyiksa. Dan pohon-pohon tumbang itu pun masih tetap di sana. Lebih parah lagi, karena hujan deras di hari sebelumnya, kami terpaksa mengambil jalur memutar di sebuah titik karena tanah yang sehari sebelumnya kami lewati, sudah terlalu lembek dan bisa longsor jika kami lewati.

Jalan setapak yang menurun pun membuatku hampir menangis. Jempol kakiku sakit sekali! Ingin deh rasanya ganti dengan sepatu sneaker saja. Dan keseimbanganku yang tidak baik, membuatku beberapa kali terpeleset, untungnya bukan terpeleset ke jurang, hehehe.
Yang pasti, ada suatu saat di mana Micha melemparkan sebuah pertanyaan, "Sayang, kamu masih kuat? Kalau nggak, saya dukung kamu."
"Lho? Terus ranselmu gimana?"
"Dipasang di depan. Mau ya?"
"..."
"Kuat, kok."
"Aku masih kuat kok. Makasih ya..."

Dan entah bagaimana, (untuk sesaat) semangatku kembali menyala, aku tidak lagi banyak berhenti. Mungkin karena aku tersentuh sama perhatian dan pengorbanan Micha. Mungkin saat itu, aku tidak melulu melihat bebanku, melainkan juga beban Micha. Aku hanya menanggung ransel berkapasitas 15 liter, dengan botol Aqua yang sudah kosong, sementara Micha masih membawa ransel 25 liternya dan botol-botol Aqua, makanan, serta sampah-sampah kami. Ditambah lagi, ia masih membawa sebuah beban lain, janji kepada Mama-ku bahwa ia akan menjagaku. Ya, ya, ya...orangtuaku memang terlalu memanjakanku. :-p

Akhirnya, tak lama setelah aku teriak (semangat yang waktu itu ada telah hilang), "Sayang, pokoknya begitu kita sampai kota, aku pengen steak, es krim, sosis, dan kentang goreng!" kami melihat sebuah pemandangan yang begitu melegakan hati. Hamparan ladang.
Akhirnya! Akhirnya! Kami kembali ke peradaban.

Lebih mengherankannya lagi, ternyata begitu kami tiba, tiga orang pendaki yang lebih dulu berangkat itu pun baru tiba. Eh, ternyata kami cepat juga ya? Lima jam lho! Hihihi, kelamaan ya? Yah, namanya juga bawa seorang putri manja. Mau apa lagi? ;-)

Karena kami tiba sudah lewat pukul 13:00, otomatis kami tidak bisa numpang truk untuk kembali ke Tumpang. Pilihan yang tersisa adalah menelepon dan menyewa jip atau naik ojeg. Ojeg murah sih, Rp 70.000,00 juga sudah mau. Tapi Micha bilang, itu bukan ide yang bagus mengingat medan yang buruk serta bawaan kami yang berat dan kondisi kami yang sangat lelah. Untunglah, seorang ibu penjaga warung (satu-satunya warung di sana!) mengenal seorang pemilik truk. Singkatnya, akhirnya kami menyewa truk itu, dengan harga Rp 300.000,00. Micha yang baik hati, menawarkan tiga orang pendaki itu untuk ikut dan menyumbang. Namun ternyata mereka bokek, dan hanya mau membayar Rp 80.000,00. Tidak mau ambil pusing, Micha setuju saja, dan menanggung sisanya.

Sebagai pembayar paling mahal, kami berdua berhak duduk di depan, sementara ketiga orang itu duduk di belakang bersama tas ransel kami. Awal dari sebuah bencana.



Ketidakcurigaan kami membuat Micha harus kehilangan kameranya. Ketidakpercayaanku bahwa sesama pendaki dapat saja mencuri, membuat kami akhirnya tidak menggeledah mereka. Micha shock, aku marah pada diriku sendiri yang tolol...yang percaya saja sama orang.
Micha hanya bilang kepada mereka, bukan kamera yang paling penting, tapi gambar di dalamnya. Ya, terpaksa gambar perjuanganku mendaki gunung, hilang di tangan orang(-orang) tidak bertanggungjawab itu. :-(

Despite of the tragedy, pengalaman (mencoba) mendaki Gunung Semeru adalah sebuah pengalaman yang berharga, yang mendalam. Dan kalau ada kesempatan, aku nggak akan nolak kalau diajak Micha untuk naik lagi.

Sempat terbersit pertanyaan apa iya, Micha mau ngajak aku lagi. Tapi ternyata ya. Dia tetap mengajakku. Bukan di Semeru, tapinya. Tapi di Alps... ;-)
Sleeping bag khusus sudah menantiku. Tinggal cocokkan hari libur kami (ya, ya...dalam kontrak kerjaku, biarpun aku anak baru, jatah liburnya sama kok, hihihi) dengan undangan-undangan menginap yang kami dapatkan dari orangtua dan saudara-saudara Micha, lalu dengan festival-festival, lalu...Alps! :-D

Anyway...untuk siapapun yang tidak mudah berprasangka buruk kepada orang lain, ingatlah wejangan dari Mama-nya Micha ini, "Chances make thieves."

Comments:
finally cerita ini dimuat juga. Hahaha ternyata sebegitu takutnya mendengar suara-suara aneh diatas gunung, tapi terbayarkan dong capeknya dengan menikmati ranu kumbolo. Tapi kurang satu jo! skrinsutnya dikit jadi keliatan basbang :-D
 
Kapan ke Alps ? Alps bagian mana (FR, IT, SUI, AUS?)

Saya juga menuju ke sana - ngga deket2 bgt dg Alps sih? Tapi naik kereta ngga sampe semaleman kok.

Maafkan ttg ilangnya kamera.
Bikin malu RI aja, maling di mana2 heeei.
 
@Dudi: Ya foto banyak diambil sama Micha, tapi ya itu...kameranya raib, hihihi.

@Macchiato: Belum ditentukan. Tapi pengennya sih yang di SUI atau AUS, tapi...lihat-lihat duit dulu deh, hihihi. ;)) Separah-parahnya ya paling yang di dekat Heidenheim saja.
 
Loh kehilangan kamera itu kok gag diceritain pas ketemuan sama aku dan Dudi.
Maling akan ada jika dia diberi kesempatan.

wah, keren banget jika ke Alpen.. *pengen*
 
@ Vnuz: Soalnya Micha masih gondok, jadi aku nggak ngomong-ngomong, kasihan kalau dia sampai senewen lagi.
Yup! Bener banget, soal maling dan kesempatan.
 
Wah..kayaknya seru yaaa...
 
This is Indonesia and Indonesia is just like this ^_^ *halah*

Moga dapet pic yang lebih bagus di alps and anywhere else :).

Ohya, kalo posting ke flickr biasane pake tag apa? micha / joan or?
 
ternyata jauh dari peradaban seru juga yah ...*terkagum kagum*
 
@ Rinnie: Iya. :-p Salam kenal ya!

@ Benny D: Terima kasih! :-)
Aku belum pakai flickr. Rencananya mulai nanti, kalau jadi ke Romania. Tapi kayaknya cuma bisa Micha aja yang pergi. :-(
*injek-injek konsuler*

@ Mideh: Iya, Mideh! Seru banget, sepi gitu. Tapi kalau tipe penakut kayak aku, lebih asyik kalo ditemenin, hihihi.
 
Masih inget ya? --; Udah lama gitu kan kejadiannya.
 
@ Droo: Lama? Masa sih? Nggak lagi, baru juga. Lagian...kalau berkesan, pasti ingat detailnya, hihihi.
 
doh jd pngen naek gunung.di batam gak ada gunung uh suebel adanya utan itupun kalo masuk susah cari airnya
 
@ Joko: Huehehe, makasih udah dikasih tahu.
 
waduh jadi malu gini ..jo waspadalah kajahatan bisa terjadi dimanapun dan kapan pun ..klo soal maling kami warga..www.bungker.org
telah banyak kehilangan termasuk laptop yang terakhir so tau ndiri gimana indonesia..lam kenal

 
waaaa... seru juga'... jadi pengen...
 
@alienstein: Halo juga! Ya sebenarnya Micha salah juga sih, dia terbiasa dengan keadaan di sana. Tiap dia ketinggalan dompet atau apa, pasti ada aja yang ngembaliin ke dia, hehehe. Tapi ya di Indonesia lain, meskipun tetap ada orang yang baik, namun mungkin persentasenya tidak sebanyak yang di negara yang melindungi kesejahteraan rakyatnya.

@Isdah: Ayo, bareng! Aku juga pengen lagi.
 
seru..seru..
kapan kapan ajak ya jo!
 
hiks...ikutan sedih gak bisa ikut ngliat pics yang dlm kamera ilang :((
 
baru mampir...duh kesian. sesama pendaki ko maling...bikin sebel
 
Kommentar veröffentlichen

Links to this post:

Link erstellen



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?