Montag, März 13, 2006

 
Untung Ada Dudi...!

Dari Blora, kami segera menuju Cepu untuk menemui keluarga teman Mama-ku. Bukan hal yang menyenangkan, sebenarnya, tapi ya itu permintaan Mama. Rencana melewatkan malam di Surabaya pun batal karena Micha terlalu capek menyetir, dan saat kami tiba di Bojonegoro pun malam telah turun. Kami pun memutuskan untuk menginap di kota kecil itu.


Keesokan paginya, barulah kami melanjutkan perjalanan. Harapanku untuk singgah di Surabaya pupus karena ditolak mentah-mentah oleh Micha. Gara-gara alasan "Surabaya is too crowded and too hot. There's nothing to see there", aku jadi di-banned nih sama Benceh. Nggak bisa ketemu sama Donceh yang ngakunya cakep itu juga. *sigh*

Sebelum tiba di Malang, aku pun nanya nomor telepon Vnuz ke Bunda. Satu hal yang (waktu itu) aku nggak tahu adalah bahwa Vnuz ini adalah manusia malam. Alhasil sms-ku dicuekkin, dan saat aku meneleponnya...aku pun membangunkannya. Oopsie, sorry-dorry, Nuz! Hehehe...
Tapi dari Vnuz, aku jadi tahu nomor anak gajah lainnya, Dudi.

Begitu tiba di Malang, aku pun mengontak seorang temanku, Tya, member Harry Potter Indonesia. Dari beberapa waktu sebelumnya pun, kami udah ingin ketemuan. Tapi ya ternyata belum berjodoh, hehehe. Lain kali ya, Tya! ;-)

Karena nggak menemui siapa pun sore itu (ya, sampainya sore) kami pun memutuskan untuk jalan-jalan menikmati kota Malang. Dari hotel tempat kami menginap, kami berjalan kaki ke Alun-Alun, di bawah rintik hujan. Ah, Malang memang kota romantis! Tapi Malang memang menyimpan banyak memori juga untukku, juga untuk Papa yang sengaja menelepon (ekstra) untuk mengingatkanku untuk makan malam di restoran kesukaan kami dulu, Dragon Phoenix. Dari Alun-Alun, restoran itu tidaklah jauh.

Sayangnya, ternyata tempat kenangan itu sudah tutup. Aku sempat kecewa juga, karena aku ingin berbagi kenangan itu bersama Micha..., tapi ya mau apa lagi? Sisi baiknya, kami jadi makan Bakso Malang. Micha suka lho! Dia terheran-heran sama makanan itu, hihihi. Tapi ya itu, perutnya masih meronta kelaparan sehingga kami mampir di McD untuk beli camilan kesukaan dia: McFlurry dengan M&M (males nulis yang bener), dan kemudian mampir juga ke toko kue Oen.

Toko ini benar-benar mengingatkanku ke Sumber Hidangan di kota kelahiranku, Bandung. Suasananya mirip banget, begitupun kue-kuenya. Sayang, kami tidak mencoba es krimnya, yang katanya sih merupakan andalan toko tersebut. Di toko ini juga akhirnya aku dan Dudi berbincang-bincang lewat telepon.

Satu hal yang pasti, aku nggak tahu deh gimana nasibku kalau nggak ada Dudi. Pas ia tahu kami berencana untuk ke Gunung Arjuna, ia mempertanyakan hal itu, "Kenapa nggak Semeru?"
Dari pembicaraan singkat itu, akhirnya Dudi berjanji akan menemui kami di hotel keesokan harinya.

***

Ngomong-ngomong, kalau ada yang belum tahu separah apa selera makanku, silakan tanyakan ke waitres di Kedai Bambu (atau apalah namanya), Kartika Graha. Aku tamu paling lama yang makan di sana. Micha aja udah selesai sarapan dari kapan-kapan, aku masih dengan tenang nambah terus, hihihi... Bangga, ceritanya.

Setelah perut nyaris meletus, baru deh kami kembali ke kamar sambil beres-beres barang. Meskipun kami sudah mencanangkan untuk naik gunung, tapi satu kali pun kami belum pernah mencoba tenda maupun ransel. Yang lebih parah, tas ransel Converse-ku dinilai Micha sudah tidak layak pakai. Hiks-hiks-hiks..., gara-gara kepenuhan diisi makanan, pas Micha mau bawa, talinya nyaris lepas begitu.

Di kala asyik memindahkan barang ke dalam ransel (sebenarnya sih waktu lebih banyak aku habiskan dengan, "Sweetie, do we need this?" dan "Sweetie, I can't live without this, but my bag is full. Could you take this with you?"), Dudi pun tiba. Hore, hore, hore. Dia datang membawa seorang temannya. Saya lupa namanya, tapi beliau ini berasal dari Sumatera Selatan dan bekerja di Siemens Surabaya. Dan kata Dudi, beliau ini tukang naik gunung. Wah, Dudi memang baik!

Bersama mereka, kami pun bertolak ke himpunan pecinta alam-nya Unibraw, tempat Dudi dan temannya dulu menuntut ilmu. Yah singkat ceritanya, orangtuaku berutang terima kasih kepada Dudi dan teman-temannya. Kenapa? Karena merekalah Micha membatalkan niatnya naik Gunung Arjuna, dan menggantinya dengan Semeru. Mengapa ini begitu penting? Ya untuk itu ada kisah lain, hehehe...

Bantuan mereka nggak cuma sampai situ, aku benar-benar sampai terharu (sementara Micha jadi malu). Mereka pun mengantar kami ke Tumpang dan memperkenalkan kami kepada seorang ranger yang memiliki guest house, Rani, tempat kami menginap malam itu. Setelah dari Tumpang, kami pun makan siang di sebuah rumah makan. Lucunya, rumah makan Dapur 33 ini menjagokan masakan khas...Bandung, hahaha! Benar-benar tuan rumah yang baik! :-D



Belum cukup juga, kami diantar beli ransel baruku, di Eiger. Sebuah ransel berwarna merah dan hitam. Tepat kombinasi warna kesukaanku (dan jadi kembaran lagi sama Micha). Untuk hal-hal kayak gini, Micha pengertian deh..., termasuk juga soal ukuran ransel, hihihi. Ayo, coba tebak, yang mana ranselku?

Akhirnya, setelah dari Eiger (Micha beli kupluk di sana), Dudi dan teman-temannya pun kembali ke Unibraw sementara Micha dan aku ke Matos, berbelanja kebutuhan untuk menaklukkan Semeru (seperti yang sudah saya tulis, ini sebuah kisah lain lagi) dan kembali ke Tumpang.

Terima kasih banyak ya, Dudi...


Comments:
yang temenku itu namanya Rul Azwar jo. Biasa dipanggil Uwik. Kekekeke, itu kan satu kampung dengan kau :-D

Ah kalo nganter-nganter di Malang mah udah biasa, maklum kota ngangenin buat berlibur sih.

Jangan bosen untuk berlibur ke Malang. As long as gw masih di Malang pasti gw anterin deh :)
 
HORE!!!

RUMAH MAKAN 33 itu juga ada yang didekat kampus ABM.
Tempat itu enak buat Dinner.. ;))

Ayo, Kapan ke Malang lagi.. Malang itu romantis banget lho.

*masih penasaran pengen lihat orang yang katanya makan "sedikit" *
 
Malang oh Malang....
Kota tempat aku kehilangan sepatu!!! Huh! Jadi itu sepatu hanya berumur sebulan, sebel! Hihihihih...

Kangen Bakso Presiden-nya yang di sebelah rel kereta ituuuuu....
 
Dudi: Hehehe, iya...saya kesulitan mengingat nama dan wajah.

Vnuz: Lah, pan udah lihat? Belum lihat makannya aja ya? :-p

Bunda: Aku belum makan bakso itu! Bunda, kapan kita ke Malang dan berburu bakso? *serius*
 
Untuk melepaskan status BANNED, silakan segera mengurusnya ke kantor DPC ID-GMAIL SURABAYA.
 
Isinya makanan semua.
Jadi laper.. --;
 
joan! cerita belum selesai kok udah ditulis sih. nanggung banget...!

aku jadi pengen ke malang deh... :P
 
Droo: Ya hobi saya kan makan... :-p

Didats: Nunggu mood, hihihi. Eh? Mau ke Malang? Ke Bandung dulu!
 
cepu?! bojonegoro?!
waaaaaaaaaah jadi inget mudik tahun lalu...
nice town.

enak banged yah joan jalan jalan moloooo....

payaaaah ga ajak ajak lea :(
 
wuaaaaaaaaa... Toko Oen.. hiks.. jadul banget..jaman opa n oma berdansa dansi hehehehe..
jadi pengin sekempyessss doyanan mideh ..hiks..
 
oiii..apdet blognya :-D, Joan taun depan tur ke sumatera dong, ranah minang, medan rekomended (damn! gw jadi pengen berjelajah :-( )
 
aih jadi pengen jalan2
 
Lea: Kamu mau jadi orang ketiga? Hihihi..

Mideh: Lho? Asal Malang apa Bogor?

Jes: Lagi males... :-D

Oki: Hehehe, sesekali ganti Singapura-nya dengan Malang saja. Banyak yang bisa nemenin lho. ;;)
 
yoooo malang...

jadi pengen walking-waking ke mbatu, makan makanan khas malang :)

dulu banget (summer 99) aku berlibur disana sampe seminggu di tempat temenku deket alun2 mbatu. hihihi, pamit dari rumah cuma nginep tempat temen (di purwokerto juga). jaman lagi bandel banget, naek kereta nggak pake tiket.

selama perjalanan cuma bayar 5000x2 buat pak kondektur kereta api logawa. pernah juga pake KBD (Kartu Bukti Diri) Keluarga PJKA punya temen (fotone dah kabur). trus, ditengah jalan di interogasi awak kereta... kayak tersangka bom bali aja :D

yang pasti, have fun there... kapan-kapan maen kesana lagi :)
hehe, berburu gajah ha!
 
wedeeeeeeeewww.. kangen Malang negh :D Nov kemarin pengen kemalang ama suami, sayang suami ga dapet cuti panjang :( Asik bener euy jalan2nya... ngiri mode on
 
Benny D: Buset dah. Ogah aku pergi ke Malang bareng kamu! Sengsara amat. :-p

Hotma: Hi! Jalan-jalannya juga gak sering-sering kok. :-D Tapi semoga di masa mendatang bisa lebih sering, hehehe...
 
walah...sampe Tumpang juga??? knapa ga skalian terus k poncokusumo cari apel??


homesick........:((
 
kok om-nya gundul yak.. ^^

teh m'bem sehat sehat ajah khan?
 
Nyam: Hehehe..., tanya aja deh sama yang nyetir *lirik Micha*.

Dwipayana: Who are you? Iya gundul, tiap 3 hari sekali dia cukur sendiri rambutnya. He like it that way, so be it. Teh M'bem tuh siapa? Tembem? Saya ya? :-D
 
mideh bukan asli bogor bukan asli malang, tapi pernah tinggal di malang.
 
wah..wah..sayang telat kenal kamu, tau gt ikutan ikutan wisataa kuliner :d
 

udah jalan&makan di mana aja sebulan terakhir ini?
hehee

 
@Macchiato: Belum ke mana-mana, sedang nabung uang dulu, hihihi.

@Gog: Masih ada kesempatan kok, hehehe...
 
Kommentar veröffentlichen

Links to this post:

Link erstellen



<< Home

This page is powered by Blogger. Isn't yours?